kabargolkarkepri.id, TANJUNGPINANG – Staf Khusus Bidang Pemuda Tim Percepatan Pembangunan Kepulauan Riau (Kepri), Basyaruddin Idris, S.H., C.P.M., C.P.Arb., mendorong pembangunan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia.
Pria yang akrab disapa Tok Oom itu menilai, pembangunan monumen tersebut penting untuk memperkuat identitas kebangsaan sekaligus mengangkat peran historis Kepulauan Riau dalam perjalanan bahasa Indonesia. Gagasan ini diharapkan menjadi bagian dari persiapan menyambut satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 mendatang.
“Ini bukan sekadar tugu biasa. Ini Monumen Bahasa. Nilainya sangat tinggi karena di sinilah akar bahasa Melayu bertransformasi menjadi bahasa Indonesia,” ujar Tok Oom di Tanjungpinang, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, generasi muda perlu kembali memperkuat semangat persatuan dan memahami sejarah yang melatarbelakangi lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.
Tok Oom mengajak organisasi kepemudaan di seluruh Indonesia untuk turut menyuarakan semangat menuju satu abad Sumpah Pemuda. Ia menilai, bahasa Melayu memiliki peran penting dalam perjalanan terbentuknya identitas kebangsaan Indonesia yang menyatukan masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang beragam.
“Kita mengimbau seluruh organisasi pemuda untuk menyerukan semangat menuju 100 tahun Sumpah Pemuda. Bahasa Melayu adalah bahasa persatuan yang menyatukan NKRI,” tegasnya.
Ajak Generasi Muda Ziarah ke Makam Raja Ali Haji
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran sejarah, Tok Oom secara khusus mengajak generasi muda Kepri untuk berziarah ke makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
Raja Ali Haji merupakan Pahlawan Nasional yang dikenal luas atas kontribusinya terhadap perkembangan bahasa dan sastra Melayu. Karyanya, termasuk Gurindam Dua Belas, menjadi bagian penting dari khazanah literasi Melayu.
Tok Oom menilai, keteladanan dan pemikiran Raja Ali Haji perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami kontribusi tokoh-tokoh Melayu dalam perkembangan bahasa Indonesia dan pembentukan identitas bangsa.
Ia juga menyoroti pentingnya peran Kepulauan Riau dalam memperkenalkan khazanah bahasa dan budaya Melayu ke tingkat nasional maupun internasional.
“Kita punya kebanggaan besar. Raja Ali Haji telah mewujudkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Bahkan kini dunia mengakuinya melalui forum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di Asia,” ungkapnya.
Usulkan Kepri Jadi Tuan Rumah Peringatan Satu Abad Sumpah Pemuda
Tidak hanya mendorong pembangunan monumen, Tok Oom bersama timnya juga berencana mengusulkan kepada Presiden Republik Indonesia agar peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 diselenggarakan di Provinsi Kepulauan Riau, khususnya di Pulau Penyengat.
Menurutnya, usulan tersebut memiliki nilai historis karena Pulau Penyengat merupakan salah satu pusat penting perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu yang berkontribusi terhadap perjalanan bahasa Indonesia.
Ia berharap peringatan satu abad Sumpah Pemuda dapat menjadi momentum untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai daerah, memperkuat persatuan nasional, sekaligus memperkenalkan warisan budaya Melayu kepada masyarakat internasional.
Tok Oom juga mengusulkan penyelenggaraan Kongres Sumpah Pemuda III dan Kongres Bahasa Indonesia (KBI) edisi khusus satu abad pada 2028 di Pulau Penyengat.
Melalui agenda tersebut, ia berharap lahir gagasan-gagasan baru untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia, mengembangkan istilah di bidang teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta menjaga kelestarian bahasa daerah.
“Kita harapkan masyarakat Kepri bisa bangga. Jika perlu, Presiden langsung yang memimpin upacara nasional di Pulau Penyengat sekaligus meresmikan Monumen Bahasa tersebut,” katanya.
Dalam konsep prakarsa bersama bertajuk Dari Pulau Penyengat untuk Indonesia: Memperkokoh Akar Sejarah, Menyongsong Indonesia Emas 2045, terdapat sejumlah agenda yang diusulkan, mulai dari menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat peringatan satu abad Sumpah Pemuda hingga menghimpun perwakilan pemuda dari 38 provinsi untuk memperbarui komitmen menjaga keutuhan NKRI.
Selain itu, Kongres Bahasa Indonesia edisi khusus satu abad diharapkan menjadi ruang pembahasan strategi penguatan bahasa Indonesia di tingkat internasional, adaptasi bahasa terhadap perkembangan teknologi, serta pelestarian bahasa daerah.
Tim perumus gagasan tersebut melibatkan Daeng Firmasyah dan Basyaruddin Idris.
Rekam Jejak Tok Oom di Organisasi Pemuda dan Kebudayaan
Gagasan pembangunan Monumen Bahasa dan penguatan peran pemuda tersebut sejalan dengan perjalanan Tok Oom dalam berbagai organisasi kepemudaan, kebudayaan, dan olahraga sejak 1990-an.
Dalam bidang kepemudaan, ia tercatat sebagai pendiri HIPEMARI di Solo pada 1991, Kepala Asrama Mahasiswa Riau di Semarang pada 1992, Wakil Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Kepri pada 1997, Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kabupaten Kepri pada 2003, serta bagian dari Majelis Pemuda Indonesia KNPI Provinsi Kepri pada 2007.
Di bidang kebudayaan, ia turut berkiprah dalam Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kepri sejak 2005, menjadi Ketua Pemuda DMDI Indonesia, Ketua GMBP3KR, serta Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Kepri.
Sementara di bidang olahraga, Tok Oom pernah menjabat Sekretaris KONI Kota Tanjungpinang pada 2012 dan Wakil Ketua KONI Provinsi Kepri.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam kegiatan organisasi dan pembangunan daerah, termasuk upaya mendorong pelestarian budaya Melayu serta penguatan identitas masyarakat Kepulauan Riau.
Turut Mendorong Berdirinya UMRAH
Selain aktif dalam organisasi kepemudaan dan kebudayaan, Tok Oom juga mengungkapkan keterlibatannya dalam perjuangan mendorong berdirinya Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), perguruan tinggi negeri yang menjadi salah satu institusi pendidikan penting di Kepulauan Riau.
Menurutnya, gagasan pendirian UMRAH mulai diperjuangkan sejak 2004 hingga kampus tersebut resmi berdiri pada 2009. Proses perintisannya melibatkan tim konsorsium yang dipimpin Abdul Malik, yang ketika itu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri.
Tok Oom menyebut dukungan kepemimpinan Gubernur Kepri saat itu, Ismeth Abdullah, menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pendirian perguruan tinggi tersebut.
“Di tangan dingin Ismeth Abdullah selaku Gubernur Kepri masa itu, cita-cita besar dan gagasan berdirinya UMRAH akhirnya bisa terwujud nyata,” kenangnya.
Ia berharap perjalanan sejarah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah, pendidikan, dan pelestarian kebudayaan.
Dorong Monumen Bahasa Jadi Simbol Kebangsaan
Tok Oom mengungkapkan, gagasan pembangunan Monumen Bahasa sebenarnya telah muncul sejak era Gubernur Kepri almarhum Muhammad Sani. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena berbagai kendala teknis dan dinamika hukum.
Kini, menjelang satu abad Sumpah Pemuda, ia berharap gagasan tersebut dapat kembali dibahas dan diperjuangkan melalui dukungan pemerintah serta partisipasi masyarakat.
Menurutnya, pembangunan Monumen Bahasa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga upaya merawat ingatan kolektif tentang sejarah bahasa, kebudayaan, dan persatuan bangsa.
Ia berharap Pulau Penyengat ke depan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi bahasa dan kebudayaan yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Melalui pembangunan monumen, peringatan satu abad Sumpah Pemuda, serta penyelenggaraan kongres kebangsaan dan bahasa yang diusulkan, Tok Oom berharap Kepulauan Riau dapat mengambil peran lebih besar dalam memperkuat identitas nasional dan menyongsong Indonesia Emas 2045.